Kale menutup pintu kamar dan segera merebahkan dirinya diatas kasur. Sejenak pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu, dimana hari-hari terasa berat selepas kepergian bundanya.

Selepas ia melihat Naya tadi pikirannya cukup terganggu. Bagaimana tidak? Secara tiba-tiba saat ia tengah sibuk menyirami bunga di depan rumah turunlah seorang perempuan dari ojek online yang mirip dengan bundanya terdahulu.

Dulu mas Angkasa pernah bilang kalau manusia itu memiliki tujuh kembaran yang tersebar di dunia, kini ia mempercayai itu.

Ia pun beranjak membuka tumpukan buku-buku lama di pojok ruangan. Ia menemukan album foto yang sudah cukup berdebu karna dibiarkan menumpuk di pojok ruangan tanpa tersentuh. Ia mulai membuka lembar per lembar album tersebut yang tanpa ia sadari perlahan kembali membuka memori dan luka lamanya.

                                     •••

“Anak-anak, sebelum pembagian rapot minggu depan, ibu mau pengen kalian semua nulis ucapan terima kasih kalian kepada orang tua maupun anggota keluarga kalian di buku catatan. Boleh menambahkan foto ataupun hiasan lainnya.”

“Yaah buu jangan bilang harus dibacain pas pembagian rapot?” Ujar perempuan berambut sebahu tersebut.

“Yup! Betul banget kalian harus bacain tugas kalian di depan orang tua murid dan teman-teman kelas kalian. Jadi tolong buat tugas ini dengan sebaik-baiknya ya!”

Kriiinggg

Kale menghela nafas panjang selagi ia memasukan beberapa bukunya ke dalam tas dan bergegas untuk pulang.